Dakwah dalam kajian Psikologi Lintas Budaya

Dakwah dalam kajian Psikologi Lintas Budaya

            Kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan – kekuatan sosial dan budaya (Segall, Dasen & Portinga, 1990).

Psikologi Lintas Budaya mencakup kajian yang bersumber dari 2 kebudayaan atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menetukan batas batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologis. Tujuan penelitian ini adalah membawa hipotesis dan temuan mereka ke lingkungan budaya lain untuk menguji daya terap dalam kelompok lain.

Kategori pengetahuan yang diakui dalam psikologis :

1.      Pengetahuan Ilmiah : berasal dari observasi, pengukuran, dan evaluasi.

2.      Teori orang  awam : mempresentasikan kumpulan keyakinan populer.

3.      Pengetahuan yang dijumpai di Masyarakat: berisi mengenai nilai nilai kehidupan

4.      Pengetahuan Legal : pengetahuan ini dalam bentuk dan persepsi lain dari sebuah otoritas.

Tradisional Kultur :

1.      Culture Tradisional : Berakar dalam tradisi, aturan, simbol, dan prinsip kultur yang ditetapkan dimasa lalu.

2.      Culture Non Tradisional : didasarkan pada prinsip, ide, dan praktik yang baru.

 

Penerapan Dakwah dalam kajian Psikologi Lintas Budaya

Berdakwah merupakan menyeru pesan-pesan Islam yang disampaikan seseorang atau kelompok kepada individu ataupun masyarakat. Bedakwah bukan hanya dilakukan untuk orang islam saja, tetapi berdakwah juga harus disemua golongan. Maka dari itu berdakwah harus membangun sikap toleransi terhadap seseorang ataupun masyarakat tertentu yang berbeda latar belakang. Lantas bagaimana cara kita agar dalam berdakwah kita tidak menyinggung perasaan dan toleransi terhadap golongan yang berbeda latar belakang, mengaitkan dengan metode dakwah Qur’an Surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi :

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Dalam ayat tersebut mengandung metode dakwah yang seharusnya bisa di gunakan para pendakwah dalam berdakwah di umat islam ataupun golongan yang berbeda latar belakang.

Pengertian Pola Komunikasi

Bahwasanya pola komunikasi merupakan serangkaian dua kata. Karena keduanya mempunyai keterkaitan makna sehingga mendukung dengan makna lainnya. Maka lebih jelasnya dua kata tersebut akan diuraikan tentang penjelasannya masing-masing.

Kata “pola” dalam kamus besar Bahasa Indonesia artinya bentuk atau sistem, cara atau bentuk (struktur) yang tetap, yang mana pola dapat dikatakan contoh atau cetakan.Pola dapat dikatakan juga dengan model, yaitu cara untuk menunjukkan sebuah objek yang mengandung kompleksitas proses didalamnya dan hubungan antara unsur-unsur pendukungnya. Menurut Little Jhon model dapat diterapkan pada setiap representasi simbolik dari suatu benda.

Secara etimologis, menurut Onong Uchjana Effendi, istilah komunikasi berasal dari perkataan bahasa Inggris “Communication” yang bersumber dari bahasa latin Communicatio” yang berarti “pemberitahuan” atau pertukaran pikiran. Maka hakiki dari communicatio ini adalah Communis yang berarti “sama” atau “kesamaan arti.”

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Astrid susanto, beliau berpendapat bahwa “perkataan komunikasi berasal dari kata Communicare” yang dalam bahasa latin memiliki arti “berpartisipasi” atau “memberitahukan”. Kata Communis berarti milik bersama atau berlaku dimana-mana.”

Sedangkan ditinjau dari segi terminologis, para ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi antara lain, sebagai berikut:

Wilbur Schramm dalam uraiannya mengatakan bahwa sebenarnya, “definisi komunikasi berasal dari bahasa latin “communis”. Bilamana kita melakukan komunikasi itu artinya kita mencoba untuk berbagi informasi, ide atau sikap. Jadi, esensi dari komunikasi itu adalah menjadikan si pengirim dapat berhubungan bersama denngan si penerima guna menyampaikan isi pesan.

Ada 4 pola komunikasi, yaitu :

a.     Pola Komunikasi Primer

Pola komunikasi primer yang merupan pokok dalam komunikasi yaitu menggunakan simbol verbal dan non-verbal dalam komunikasi dengan mitra komunikasi. Simbol verbal dan non-verbal ini digunakan agar memadukan antara mitra komunikasi, oleh karena itu komunikasi dengan pola komunikasi primer ini akan lebih efektif dalam prosesnya.

b.     Pola Komunikasi Sekunder

Pola komunikasi sekunder yaitu prose komunikasi menggunakan alat bantu seperti teknologi komunikasi. Seseorang menggnkan pola komunikasi ini dikarenakan mitra komunikasinya berlokasi jauh atau berjumlah banyak, oleh karena itu dalam proses komunikasi secara sekunder ini lama-kelamaan akan semakin efektif dan efisien, karena didukung oleh teknologi komunikasi yang semakin berkembang dari waktu-ke waktu.

c.      Pola Komunikasi Linear

Pola komunikasi linear yaitu proses komunikasi yang melalui perencanaan terlebih dahulu. Penyampaian pesan oleh mitra komunikasi adalah sebagai titik terminal. Jadi dalam prosesnya biasanya terjadi dalam komunikasi face to face (tatap muka), tetapi juga adakalanya menggunakan media.

d.     Pola Komunikasi Sirkular

Pola komunikasi sirkular yaitu proses komunikasi yang berkelanjutan antara mitra komunikasi dimana keduanya saling memberikan dan menerima feedback, maka dalam pola ini proses terpenting adalah feedback atau respon hubungan timbal balik antara mitra komunikasi.

Bentuk-bentuk Komunikasi

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa pola komunikasi yang sesuai dengan arti pola di atas lebih tepat untuk mengambil kesimpulan adalah bentuk-bentuk komunikasi terdapat empat macam, yaitu :

a.       Komunikasi Intra Pribadi (Interpersonal Communication). Adalah proses komunikasi dalam diri seseorang berupa proses pengolahan informasi melalui panca indera dan sistem saraf.

b.      Komunikasi Antar Pribadi (Antarpersonal Communication) adalah proses penyampaian paduan pikiran dan perasaan oleh seseorang kepada orang lain agar mengetahui, mengerti dan melakukan kegiatan tertentu.

C. Komunikasi Kelompok (Group Communication) adalah penyampaian pesan oleh seorang komunikator kepada sejumlah komunikan untuk mengubah sikap, pandangan atau perilakunya.

d.      Komunikasi Massa (mass Communication) menurut Zulkarnaen Nasution di dalam bukunya Sosiologi Komunikasi Massa, bahwa yang dimaksud dengan komunikasi massa adalah “suatu proses penyampaian informasi atau pesan-pesan yang ditujukan kepada khalayak massa dengan karakteristik tertentu”. Sedangkan media massa hanya salah satu komponen atau sarana yang memungkinkan berlangsungnya prose sang di maksud.

 

Faktor Pendukung Pola Komunikasi Antar Budaya

Ada beberapa faktor pendukung dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya:

a.       Sikap kekeluargaan

Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah “mendarah-daging” dalam hati sanubari mereka. Hal ini pun terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa Pringapus yang memperlihatkan sikap kekeluargaan, seperti contohnya apabila salah satu warga tertimpa musibah atau mengadakan suatu hajat seperti akan menikahkan anaknya atau sekedar acara tasyakuran, biasanya para tetangga di lingkungan sekitar warga yang memiliki hajat akan segera datang untuk memberi bantuan tanpa diminta terlebih dahulu oleh si pemilik hajat tersebut seolah mereka merasa sepereti saudara sendiri.

b.      Menjunjung tinggi sikap sopan santun

Hal ini sangat terlihat sekali pada masyarakat desa Pringapus dalam kehidupan sehari-hari, dimana mereka bisa menempatkan sikap mereka. Contohnya Seperti, mereka membedakan logat bahasa yang digunakan saat mereka berbicara dengan orang yang lebih tua dari mereka dengan saat mereka berbicara dengan teman sebayanya, selain itu jika mereka berpapasan dengan orang yang lebih tua, biasanya orang yang lebih muda lah yang menegur terlebuh dahulu.

c.       Sikap saling menghargai orang lain

Sesuai dengan sikap masyarakat desa pada umumnya, masyarakat desa Pringapus sangat menghargai orang lain, mereka benar-benar memperhitungkan kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai patokan untuk membalas kebaikan orang tersebut di kemudian hari.

d.      Sikap Gotong-royong

Dalam konteks ini penulis melihat sikap gotong royong masyarakat desa Pringapus dalam kehidupan sehari-hari, contohnya mereka saling bergotong royong dan bekerja sama apabila tetangganya ada yang terkena musibah, seperti halnya sikap kekeluargaan mereka akan dengan sendirinya bersama-sama meringankan beban tetangganya yang memang sedang membutuhkan.

e.       Sikap Demokratis

     Sejalan dengan adanya perubahan struktur organisasi di desa, pengambilan keputusan terhadap suatu kegiatan pembangunan selalu dilakukan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat. Dalam kehidupan sehari-hari apabila masyarakat desa Pringapus berselisih paham akan sesuatu masalah maka cara yang ditempuh adalah dengan cara musyawarah untuk mufakat, hal ini sangat efektif dalam menyelesaikan masalah antara kedua orang atau kelompok yang berselisih, biasanya mereka memanggil tokoh masyarakat sebagai penengah.

f.       Religius

           Dalam agama Islam di anjurkan untuk saling menjaga dan menyambung tali silaturahmi atau tali persaudaraan antar sesama umat Islam. Dan juga haram hukumnya menumpahkan darah sesama muslim tanpa adanya alasan yang dibenarkan secara hukum Syar’i ataupun hukum positif dari suatu negara. Hal ini terlihat dalam kegiatan perayaan hari raya. Misalnya pada saat merayakan hari raya idul fitri, meskipun mereka pernah melaksanakannya pada hari dan tempat yang berbeda, namun itu bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap menyambung silaturahmi.

 

Faktor Penghambat Pola Komunikasi Antar Budaya

a.       Sikap mudah curiga

b.  Perbedaan pandangan dalam segi beribadah dalam agama

c.       Prasangka sosial

d.      Stereotip

 

REFERENSI

Himam, Aliyul. Pola komunikasi lintas budaya Mahasiswa KKN-PPL Terpadu Internasional Thailand. Diss. UIN Sunan Ampel Surabaya, 2018.

Muttaqien, Muchammad Arief Sigit. "Komunikasi Antar Budaya: Study Pada Pola Komunikasi Masyarakat Muhammadiyah Dan NU Di Desa Pringapus, Semarang, Jawa Tengah." (2009).

 

Comments