Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern
Kehidupan multikultural modern itu ditandai dengan adanya peningkatan kualitas perubahan sosial yang lebih jelas yang sudah meninggalkan fase transisi (kehidupan desa yang sudah maju).
Kehidupan masyarakat modern sudah kosmopolitan dengan kehidupan individual yang sangat menonjol, profesionalisme di segala bidang dan penghargaan terhadap profesi menjadi kunci hubungan sosial di antara elemen masyarakat. Namun di sisi lain sekularisme menjadi sangat dominan dalam sistem religi dan kontrol sosial masyarakat dan sistem kekerabatan sudah mulai diabaikan. Anggota masyarakat hidup dalam suatu sistem yang kaku, dan hubungan - hubungan sosial ditentukan berdasarkan pada kepentingan masing - masing masyarakat.
Masyarakat modern pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari masyarakat transisi sehingga memiliki pengetahuan yang lebih luas dan pola pikir yang lebih rasional dari semua tahapan kehidupan masyarakat sebelumnya.
Adapun faktor hambatan komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern yang sering terjadi adalah sebagai berikut :
1). Fisik – Hambatan komunikasi yang berasal dari waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan media.
2). Budaya – Hambatan komunikasi yang berasal dari etnis, agama, dan sosial yang berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.
3). Persepsi – Hambatan komunikasi yang timbul karena perbedaan persepsi yang dimiliki oleh individu (mad'u) mengenai sesuatu. Perbedaan persepsi menyebabkan perbedaan dalam mengartikan atau memaknakan sesuatu.
4). Motivasi – Hambatan komunikasi yang berkaitan dengan tingkat motivasi mad'u menerima pesan dakwah. Rendahnya tingkat motivasi mad'u menerima pesan dakwah mengakibatkan komunikasi dakwah menjadi terhambat.
5). Pengalaman – Hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang dimiliki individu (mad'u). Perbedaan pengalaman yang dimiliki oleh masing - masing mad'u dapat menyebabkan perbedaan dalam konsep serta persepsi terhadap sesuatu.
6). Emosi – Hambatan komunikasi yang berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar (mad'u). Apabila emosi mad'u sedang buruk maka hambatan komunikasi dakwah yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
7). Bahasa – Hambatan komunikasi yang terjadi ketika penyampai pesan (da'i) dan penerima pesan (mad'u) menggunakan bahasa atau kata - kata yang tidak dimengerti oleh mad'u sehingga menimbulkan ketidaksamaan makna.
8). Nonverbal – Hambatan komunikasi yang berupa isyarat atau gesture.
9). Kompetisi – Hambatan komunikasi yang timbul ketika penerima pesan (mad'u) sedang melakukan kegiatan lain di saat menerima pesan dakwah.
Mengatasi Hambatan dalam Komunikasi Lintas Budaya
Berikut ini adalah cara mengatasi hambatan komunikasi menurut Bovee dan Thill, 2002, 22, sebagai berikut ;
1. Memelihara iklim komunikasi agar senantiasa terbuka
2. Bertekad untuk memegang teguh etika dalam berkomunikasi dan menjalannya dengan baik
3. Memahami akan adanya kesulitan komunikasi antar budaya
4. Menggunakan pendekatan komunikasi yang berpusat pada penerima pesan.
5. Menggunakan tekonogi yang ada secara bijaksana dan bertanggung jawab agar dapat memperoleh dan membagi informasi dengan baik dan efektif.
6. Menciptakan serta memproses pesan secara efektif dan juga efisien. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara yakni : memahami penerima pesan, menyesuaikan pesan dengan si penerima, mengurangi jumlah pesan, memilih salurah atau media secara tepat, meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Comments
Post a Comment