MINI BOOK
1. DEFINISI DAKWAH MULTIKULTURAL
Dalam konteks keberagamaan, sebagian umat beragama senantiasa mensosialisasikan ajaran-ajaran agama mereka kepada masyarakat yang plural dengan tidak mengindahkan wajah pluralitas kehidupan masyarakat dalam segala aspeknya. Disinilah nilai signifikansi perspektif multikultural perlu dimiliki oleh siapapun yang hendak menyampaikan pesan-pesan agama dalam masyarakat yang multikultural. Sebab perspektif multikultural menyuntikkan spirit pengakuan terhadap pluralitas budaya sekaligus menerima secara positif segala bentuk pluralitas budaya kehidupan umat manusia tersebut.
Berdakwah secara multikultural berarti berupaya menciptakan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disetarakan. Itulah inti dari prinsip dakwah multicultural.
Dakwah adalah kegiatan memanggil, menyeru, dan mengajak orang lain untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan aqidah dan syari’at islam. Dengan mengetahui hakikat dakwah, maka dapat dirumuskan pengertian dakwah Islam yakni proses mengajak dan memengaruhi orang menuju jalan Allah yang dilakukan oleh umat Islam secara sistemik.
Sementara multikultural, secara sederhana dapat dikatakan sebagai pengakuan atas adanya pluralitas budaya. Multikultural yang menjadi paham multikulturalisme pada hakikatnya mengakui akan martabat manusia yang hidup di dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang spesifik. Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai dan sejalan dengan itu pula merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama di dalam komunitasnya. Pengingkaran suatu masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui (needs for recognition) merupakan akar dari ketimpangan-ketimpangan dalam berbagai bidang kehidupan
[Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial KemanusiaanVol. 8, no. 1 (2017) Hal 161-162]
Ruang Lingkup Komunikasi Lintas Budaya
Pada dasarnya ruang lingkup Komunikasi Lintas Budaya tidak jauh beda dengan komunikasi secara umum. Namun Komunikasi Lintas Budaya menekankan perbandingan pada perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi di antara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan dan Komunikasi Lintas Budaya mempelajari efek media (perbandingan efek media dengan efek media yang lain).
2. BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL
Dilihat dari perspektif multikultural, penyampaian pesan-pesan agama atau dakwah meniscayakan seorang da’i memahami keanekaragaman kultural masyarakat dan bersikap positif terhadap keanekaragaman tersebut. Berdakwah secara multikultural berarti berupaya menciptakan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disetarakan. Itulah inti dari prinsip dakwah multikultural. Basis dakwah multikultural dikaji melalui telaah doktrin Islam yakni melalui perspektif tafsir agar diperoleh pandangan yang lebih holistik dari sudut Qur’an. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Seperti dalam al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير
Artinya: Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki
dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku,
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di
antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha mengenal”
Pendekatan pendekatan dakwah multikultural mencakup lima spek yakni menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal, menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right) termasuk hak-hak kelompok minoritas, lebih mengutamakan pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jihady), menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (interculture-faith understanding), serta menyegarkan kembali pehamaman doktrindoktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural.
3. TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya, seperti yang dikatakan Edward T. Hall, bahwa “komunikasi adalah budaya” dan “budaya adalah komunikasi”. Secara sederhana komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang budaya.
A. Fungsi Komunukasi Antar Budaya
1. Fungsi Pribadi
Fungsi pribadi komunikasi antar budaya adalah fungsi-fungsi komunikasi anatar budaya yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu.
a. Menyatakan Identitas Sosial
Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui ahasa berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul suku bangsa, agama, maupun tingkat pendidikan seseorang
b. Menyatakan intergrasi social
Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengankomunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi.
c. Menambah pengetahuan
Seringkali komunikasi antarbudaya menambah pengetahuan ahasa dan saling mempelajari kebudayaan masing-masing
2. Fungsi Sosial
a. Pengawasan
Fungsi sosial yang pertamaadalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan “perkembangan” tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarluaskan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.
b. Menjembatani
Dalam proses komunikasiantarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks komunikasi termasuk komunikasi massa.
c. Sosialisasi Nilai
Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.
d. Menghibur
Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya. Misalnya menonton tarian dari kebudayaan lain. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya
B. Tujuan Komunikasi Antar Budaya
Komunikasi antarbudaya terjadi bertujuan untuk mengurangi tingkat ketidakpastian. Seperti halnya ahasa ada dua individu yang sedang berkomunikasi, namun kedua individu tersebut menggunakan ahasa yang berbeda-beda karena kebudayaan yang berbeda. Sehingga komunikasi antarbudaya inilah yang akan berperan sebagai alat banu dan mengurangi tingkat ketidakpastian ogika maupun definisi dari topik komunikasi yang sedang dibahas. Jadi, intinya adalah komunikasi antarbudaya bertujuan untuk menjadi alat bantu komunikasi antarbudaya. Sehingga data dimengerti secara efektif
C. Peranan Komunikasi Antarbudaya
Peranan ahasa saat ini merupakan alat yang sangat berperan penting dalam komunikasi antarbudaya. Contohnya, orang pesisir yang memiliki pola hidup keras kerap kali berbicara dengan kencang, sehingga dapat membuat orang salah mengartikan. Dikiranya orang tersebut sedang marah-marah, padahal sebenarnya tidak. Sehingga, keberadaan ahasa di sinilah diperlukan. Dengan menggunakan ahasa Indonesia atau ahasa kebangsaan, maka kesalahpahaman akan menurun dan perlahan menghilang. Karena, ahasa sendiri yang dapat memilah mana marah, mana senang, dan mana yang sedih. Dan juga, ahasa merupakan simbolik dari rasa.
4. DEFINISI DAKWAH MULTIKULTURAL
Dalam konteks keberagamaan, sebagian umat beragama senantiasa mensosialisasikan ajaran-ajaran agama mereka kepada masyarakat yang plural dengan tidak mengindahkan wajah pluralitas kehidupan masyarakat dalam segala aspeknya. Disinilah nilai signifikansi perspektif multikultural perlu dimiliki oleh siapapun yang hendak menyampaikan pesan-pesan agama dalam masyarakat yang multikultural. Sebab perspektif multikultural menyuntikkan spirit pengakuan terhadap pluralitas budaya sekaligus menerima secara positif segala bentuk pluralitas budaya kehidupan umat manusia tersebut.
Berdakwah secara multikultural berarti berupaya menciptakan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disetarakan. Itulah inti dari prinsip dakwah multicultural.
Dakwah adalah kegiatan memanggil, menyeru, dan mengajak orang lain untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan aqidah dan syari’at islam. Dengan mengetahui hakikat dakwah, maka dapat dirumuskan pengertian dakwah Islam yakni proses mengajak dan memengaruhi orang menuju jalan Allah yang dilakukan oleh umat Islam secara sistemik.
Sementara multikultural, secara sederhana dapat dikatakan sebagai pengakuan atas adanya pluralitas budaya. Multikultural yang menjadi paham multikulturalisme pada hakikatnya mengakui akan martabat manusia yang hidup di dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang spesifik. Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai dan sejalan dengan itu pula merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama di dalam komunitasnya. Pengingkaran suatu masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui (needs for recognition) merupakan akar dari ketimpangan-ketimpangan dalam berbagai bidang kehidupan
[Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial KemanusiaanVol. 8, no. 1 (2017) Hal 161-162]
Ruang Lingkup Komunikasi Lintas Budaya
Pada dasarnya ruang lingkup Komunikasi Lintas Budaya tidak jauh beda dengan komunikasi secara umum. Namun Komunikasi Lintas Budaya menekankan perbandingan pada perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi di antara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan dan Komunikasi Lintas Budaya mempelajari efek media (perbandingan efek media dengan efek media yang lain).
5. DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS DAN BANGSA
unsur dakwah dan komunikasi mempunyai integrasi yang sama yakni
a. Da’i / Komunikator ialah orang yang menyampaikan pesan
b. Mad’u / Komunikan ialah orang yang menerima pesan, adapun penggolongan mad’u dari segi sosiologis, usia, profesi, ekonomi, gender, dan lain-lain
c. Materi / Pesan ialah apa yang disampaikan oleh da’i atau komunikator dan yang diterima oleh mad’u atau komunikan, macam-macam materi yang disampaikan bisa berupa aqidah, akhlak, syari’ah mupun muamalah.
d. Wasilah / Media ialah alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan.
Adapun media yang digunakan bisa berupa lisan, tulisan, gambar, audio visual, media sosial dan lain sebagainya.
e. Feedback atau efek
dalam hal ini ada 3 yakni Kognitif (Pemahaman), Afektif (Perubahan sikap),Behavioral (Tingkah laku)
Dalam berdakwah, seornag dai akan berhadapan dengan berbagi pendapat, budaya dan beberapa rintangan dari masyarakat. menurut Abd. Rohim Ghazali ada beberapa prinsip dakwah antarbudaya yang bisa ditegakkan untuk memperkuat hubungan antar anggota masyarakat mempersatukan perasaan yang merupakan dasar kebajikan universal yaitu:
1. dakwah dilakukan dengan memperhatikan unsur-unsur kebencian. Ayat al-quran dan hadist nabi harus disampaikan sesuai dengan fungsinya, yakni untuk menasihat dan menyampaikan kebenaran.
2. dakwah dilakukan secara lisan, maka dakwah disampaikan dengan tutur kata yang santun, tidak menyinggung perasaan dan menynidr keyakinan orang lain
3. dakwah dilakukan secara persuasif, karena sikap memkasa hanya membuat orang lain enggan untuk mengikuti apa yang kita dakwahkan
4. dakwah tidak boleh dilakukan dengan jalan yang salah, seperti menjatuhkan agama dan keyakinan umat lain.
6. Dakwah dalam kajian Psikologi Lintas Budaya
Kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan – kekuatan sosial dan budaya (Segall, Dasen & Portinga, 1990).
Psikologi Lintas Budaya mencakup kajian yang bersumber dari 2 kebudayaan atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menetukan batas batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologis. Tujuan penelitian ini adalah membawa hipotesis dan temuan mereka ke lingkungan budaya lain untuk menguji daya terap dalam kelompok lain.
Kategori pengetahuan yang diakui dalam psikologis :
1. Pengetahuan Ilmiah : berasal dari observasi, pengukuran, dan evaluasi.
2. Teori orang awam : mempresentasikan kumpulan keyakinan populer.
3. Pengetahuan yang dijumpai di Masyarakat: berisi mengenai nilai nilai kehidupan
4. Pengetahuan Legal : pengetahuan ini dalam bentuk dan persepsi lain dari sebuah otoritas.
Tradisional Kultur :
1. Culture Tradisional : Berakar dalam tradisi, aturan, simbol, dan prinsip kultur yang ditetapkan dimasa lalu.
2. Culture Non Tradisional : didasarkan pada prinsip, ide, dan praktik yang baru.
Penerapan Dakwah dalam kajian Psikologi Lintas Budaya
Berdakwah merupakan menyeru pesan-pesan Islam yang disampaikan seseorang atau kelompok kepada individu ataupun masyarakat. Bedakwah bukan hanya dilakukan untuk orang islam saja, tetapi berdakwah juga harus disemua golongan. Maka dari itu berdakwah harus membangun sikap toleransi terhadap seseorang ataupun masyarakat tertentu yang berbeda latar belakang. Lantas bagaimana cara kita agar dalam berdakwah kita tidak menyinggung perasaan dan toleransi terhadap golongan yang berbeda latar belakang, mengaitkan dengan metode dakwah Qur’an Surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi :
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Dalam ayat tersebut mengandung metode dakwah yang seharusnya bisa di gunakan para pendakwah dalam berdakwah di umat islam ataupun golongan yang berbeda latar belakang.
Pengertian Pola Komunikasi
Bahwasanya pola komunikasi merupakan serangkaian dua kata. Karena keduanya mempunyai keterkaitan makna sehingga mendukung dengan makna lainnya. Maka lebih jelasnya dua kata tersebut akan diuraikan tentang penjelasannya masing-masing.
Kata “pola” dalam kamus besar Bahasa Indonesia artinya bentuk atau sistem, cara atau bentuk (struktur) yang tetap, yang mana pola dapat dikatakan contoh atau cetakan.Pola dapat dikatakan juga dengan model, yaitu cara untuk menunjukkan sebuah objek yang mengandung kompleksitas proses didalamnya dan hubungan antara unsur-unsur pendukungnya. Menurut Little Jhon model dapat diterapkan pada setiap representasi simbolik dari suatu benda.
Secara etimologis, menurut Onong Uchjana Effendi, istilah komunikasi berasal dari perkataan bahasa Inggris “Communication” yang bersumber dari bahasa latin “Communicatio” yang berarti “pemberitahuan” atau pertukaran pikiran. Maka hakiki dari communicatio ini adalah Communis yang berarti “sama” atau “kesamaan arti.”
Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Astrid susanto, beliau berpendapat bahwa “perkataan komunikasi berasal dari kata “Communicare” yang dalam bahasa latin memiliki arti “berpartisipasi” atau “memberitahukan”. Kata Communis berarti milik bersama atau berlaku dimana-mana.”
Sedangkan ditinjau dari segi terminologis, para ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi antara lain, sebagai berikut:
Wilbur Schramm dalam uraiannya mengatakan bahwa sebenarnya, “definisi komunikasi berasal dari bahasa latin “communis”. Bilamana kita melakukan komunikasi itu artinya kita mencoba untuk berbagi informasi, ide atau sikap. Jadi, esensi dari komunikasi itu adalah menjadikan si pengirim dapat berhubungan bersama denngan si penerima guna menyampaikan isi pesan.
Ada 4 pola komunikasi, yaitu :
a. Pola Komunikasi Primer
Pola komunikasi primer yang merupan pokok dalam komunikasi yaitu menggunakan simbol verbal dan non-verbal dalam komunikasi dengan mitra komunikasi. Simbol verbal dan non-verbal ini digunakan agar memadukan antara mitra komunikasi, oleh karena itu komunikasi dengan pola komunikasi primer ini akan lebih efektif dalam prosesnya.
b. Pola Komunikasi Sekunder
Pola komunikasi sekunder yaitu prose komunikasi menggunakan alat bantu seperti teknologi komunikasi. Seseorang menggnkan pola komunikasi ini dikarenakan mitra komunikasinya berlokasi jauh atau berjumlah banyak, oleh karena itu dalam proses komunikasi secara sekunder ini lama-kelamaan akan semakin efektif dan efisien, karena didukung oleh teknologi komunikasi yang semakin berkembang dari waktu-ke waktu.
c. Pola Komunikasi Linear
Pola komunikasi linear yaitu proses komunikasi yang melalui perencanaan terlebih dahulu. Penyampaian pesan oleh mitra komunikasi adalah sebagai titik terminal. Jadi dalam prosesnya biasanya terjadi dalam komunikasi face to face (tatap muka), tetapi juga adakalanya menggunakan media.
d. Pola Komunikasi Sirkular
Pola komunikasi sirkular yaitu proses komunikasi yang berkelanjutan antara mitra komunikasi dimana keduanya saling memberikan dan menerima feedback, maka dalam pola ini proses terpenting adalah feedback atau respon hubungan timbal balik antara mitra komunikasi.
Bentuk-bentuk Komunikasi
Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa pola komunikasi yang sesuai dengan arti pola di atas lebih tepat untuk mengambil kesimpulan adalah bentuk-bentuk komunikasi terdapat empat macam, yaitu :
a. Komunikasi Intra Pribadi (Interpersonal Communication). Adalah proses komunikasi dalam diri seseorang berupa proses pengolahan informasi melalui panca indera dan sistem saraf.
b. Komunikasi Antar Pribadi (Antarpersonal Communication) adalah proses penyampaian paduan pikiran dan perasaan oleh seseorang kepada orang lain agar mengetahui, mengerti dan melakukan kegiatan tertentu.
C. Komunikasi Kelompok (Group Communication) adalah penyampaian pesan oleh seorang komunikator kepada sejumlah komunikan untuk mengubah sikap, pandangan atau perilakunya.
d. Komunikasi Massa (mass Communication) menurut Zulkarnaen Nasution di dalam bukunya Sosiologi Komunikasi Massa, bahwa yang dimaksud dengan komunikasi massa adalah “suatu proses penyampaian informasi atau pesan-pesan yang ditujukan kepada khalayak massa dengan karakteristik tertentu”. Sedangkan media massa hanya salah satu komponen atau sarana yang memungkinkan berlangsungnya prose sang di maksud.
Faktor Pendukung Pola Komunikasi Antar Budaya
Ada beberapa faktor pendukung dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya:
a. Sikap kekeluargaan
Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah “mendarah-daging” dalam hati sanubari mereka. Hal ini pun terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa Pringapus yang memperlihatkan sikap kekeluargaan, seperti contohnya apabila salah satu warga tertimpa musibah atau mengadakan suatu hajat seperti akan menikahkan anaknya atau sekedar acara tasyakuran, biasanya para tetangga di lingkungan sekitar warga yang memiliki hajat akan segera datang untuk memberi bantuan tanpa diminta terlebih dahulu oleh si pemilik hajat tersebut seolah mereka merasa sepereti saudara sendiri.
b. Menjunjung tinggi sikap sopan santun
Hal ini sangat terlihat sekali pada masyarakat desa Pringapus dalam kehidupan sehari-hari, dimana mereka bisa menempatkan sikap mereka. Contohnya Seperti, mereka membedakan logat bahasa yang digunakan saat mereka berbicara dengan orang yang lebih tua dari mereka dengan saat mereka berbicara dengan teman sebayanya, selain itu jika mereka berpapasan dengan orang yang lebih tua, biasanya orang yang lebih muda lah yang menegur terlebuh dahulu.
c. Sikap saling menghargai orang lain
Sesuai dengan sikap masyarakat desa pada umumnya, masyarakat desa Pringapus sangat menghargai orang lain, mereka benar-benar memperhitungkan kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai patokan untuk membalas kebaikan orang tersebut di kemudian hari.
d. Sikap Gotong-royong
Dalam konteks ini penulis melihat sikap gotong royong masyarakat desa Pringapus dalam kehidupan sehari-hari, contohnya mereka saling bergotong royong dan bekerja sama apabila tetangganya ada yang terkena musibah, seperti halnya sikap kekeluargaan mereka akan dengan sendirinya bersama-sama meringankan beban tetangganya yang memang sedang membutuhkan.
e. Sikap Demokratis
Sejalan dengan adanya perubahan struktur organisasi di desa, pengambilan keputusan terhadap suatu kegiatan pembangunan selalu dilakukan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat. Dalam kehidupan sehari-hari apabila masyarakat desa Pringapus berselisih paham akan sesuatu masalah maka cara yang ditempuh adalah dengan cara musyawarah untuk mufakat, hal ini sangat efektif dalam menyelesaikan masalah antara kedua orang atau kelompok yang berselisih, biasanya mereka memanggil tokoh masyarakat sebagai penengah.
f. Religius
Dalam agama Islam di anjurkan untuk saling menjaga dan menyambung tali silaturahmi atau tali persaudaraan antar sesama umat Islam. Dan juga haram hukumnya menumpahkan darah sesama muslim tanpa adanya alasan yang dibenarkan secara hukum Syar’i ataupun hukum positif dari suatu negara. Hal ini terlihat dalam kegiatan perayaan hari raya. Misalnya pada saat merayakan hari raya idul fitri, meskipun mereka pernah melaksanakannya pada hari dan tempat yang berbeda, namun itu bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap menyambung silaturahmi.
Faktor Penghambat Pola Komunikasi Antar Budaya
a. Sikap mudah curiga
b. Perbedaan pandangan dalam segi beribadah dalam agama
c. Prasangka sosial
d. Stereotip
7. Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah
1. 1. Pembahasan Komunikasi Lintas Budaya dalam Dakwah
Dakwah pada komunitas atau masyarakat yang multikultur harus dapat memahami dan mengetahui perbedaan budaya dan adat istiadat setempat, termasuk cara berkomunikasi. Tanpa mengetahui perbedaan cara berkomunikasi verbal dan nonverbal yang beragam ini dikhawatirkan proses transmisi pesan-pesan dakwah tidak tersalurkan dengan baik, sebaliknya akan terjadi ketidaksepahaman dari masyarakat yang didakwahi. Memahami latar budaya yang berbeda dan mengetahui proses komunikasi lintas budaya menjadi hal yang urgen sebagai sarana untuk berdakwah.
Hubungan antara budaya dan komunikasi penting dipahami untuk memahami komunikasi lintas budaya, oleh karena melalui pengaruh budayalah orang-orang belajar berkomunikasi. Seorang Korea, seorang Mesir atau seorang Amerika belajar berkomunikasi seperti orang-orang Korea, orang-orang Mesir, atau orang-orang Amerika lainnya. Perilaku mereka dapat mengandung makna, sebab perilaku tersebut dipelajari dan diketahui, dan perilaku itu terikat oleh budaya. Orang-orang memandang dunia mereka melalui kategori-kategori, konsep-konsep, dan label-label yang dihasilkan budaya mereka (Porter & Samovar dalam Mulyana, 2014: 24).
Seseorang ketika berkomunikasi akan dipengaruhi oleh budaya tempat ia tinggal, sehingga komunikasi tidak tersampaikan maknanya bila tidak memahami apa yang disampaikan oleh komunikator dan komunikan. Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau makna dari pengirim kepada penerima. Seorang komunikator menggunakan beberapa sarana atau alat untuk mengungkapkan atau mengkomunikasikan pikiran, perasaan, dan keinginan kita kepada komunikan. Sarana itu dapat berbentuk perilaku verbal maupun non-verbal. Setiap budaya akan memiliki aturan-aturan bagaimana cara anggota-anggotanya untuk melakukan komunikasi tersebut baik melalui verbal maupun nonverbal (Dayakisni & Yuniardi, 2012: 181).
Komunikasi terjadi antara sekurang-kurangnya dua orang peserta komunikasi atau bisa jadi lebih banyak dari itu (organisasi, publik dan massa) yang melibatkan pertukaran tanda-tanda melalui suara seperti telepon, kata-kata seperti pada halaman buku tercetak, atau suara dan kata-kata yaitu melalui televisi (Liliweri, 2003: 24). Seorang komunikator (da’i) ketika menyampaikan ceramahnya di ruang publik semisal melalui televisi akan didengarkan oleh jutaan pemirsa yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, maka patut baginya untuk memilih kata-kata dan gerakan tubuh (gestures) yang dapat dimengerti oleh semua pihak. Karena boleh jadi, ada satu lafal memiliki makna yang berbeda. Semisal kata "atos" dalam bahasa Jawa artinya keras, sedang dalam bahasa Sunda artinya sudah. Hal seperti ini sebenarnya hanya biasa saja, namun bila tidak hati-hati akan menyebabkan mis-communication. Perbedaan ini baru pada level beda suku, bagaimana bila pelakunya beda negara.
2. Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal & Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah dapat diwujudkan dengan cara berikut :
a. Verbal : komunikasi verbal yang biasa kita lakukan sehari-hari.
Bila kita menyertakan budaya sebagai variabel dalam proses komunikasi tersebut, maka masalahnya akan semakin rumit. Ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dari budaya kita sendiri, proses komunikasi akan jauh lebih mudah, karena dalam suatu budaya orang-orang berbagi sejumlah pengalaman serupa. Namun bila komunikasi melibatkan orang-orang berbeda budaya, banyak pengalaman berbeda dan akhirnya proses komunikasi juga menyulitkan.
b. Non Verbal : semua isyarat yang bukan kata-kata
Dalam proses non verbal yang relevan dengan komunikasi antar budaya terdapat tiga aspek yaitu; perilaku non verbal yang berfungsi sebagai simbol, tatapan mata, isyarat tangan, gerakan kepala dan lainnya.
8. Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern
Kehidupan multikultural modern itu ditandai dengan adanya peningkatan kualitas perubahan sosial yang lebih jelas yang sudah meninggalkan fase transisi (kehidupan desa yang sudah maju).
Kehidupan masyarakat modern sudah kosmopolitan dengan kehidupan individual yang sangat menonjol, profesionalisme di segala bidang dan penghargaan terhadap profesi menjadi kunci hubungan sosial di antara elemen masyarakat. Namun di sisi lain sekularisme menjadi sangat dominan dalam sistem religi dan kontrol sosial masyarakat dan sistem kekerabatan sudah mulai diabaikan. Anggota masyarakat hidup dalam suatu sistem yang kaku, dan hubungan - hubungan sosial ditentukan berdasarkan pada kepentingan masing - masing masyarakat.
Masyarakat modern pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari masyarakat transisi sehingga memiliki pengetahuan yang lebih luas dan pola pikir yang lebih rasional dari semua tahapan kehidupan masyarakat sebelumnya.
Adapun faktor hambatan komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern yang sering terjadi adalah sebagai berikut :
1). Fisik – Hambatan komunikasi yang berasal dari waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan media.
2). Budaya – Hambatan komunikasi yang berasal dari etnis, agama, dan sosial yang berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.
3). Persepsi – Hambatan komunikasi yang timbul karena perbedaan persepsi yang dimiliki oleh individu (mad'u) mengenai sesuatu. Perbedaan persepsi menyebabkan perbedaan dalam mengartikan atau memaknakan sesuatu.
4). Motivasi – Hambatan komunikasi yang berkaitan dengan tingkat motivasi mad'u menerima pesan dakwah. Rendahnya tingkat motivasi mad'u menerima pesan dakwah mengakibatkan komunikasi dakwah menjadi terhambat.
5). Pengalaman – Hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang dimiliki individu (mad'u). Perbedaan pengalaman yang dimiliki oleh masing - masing mad'u dapat menyebabkan perbedaan dalam konsep serta persepsi terhadap sesuatu.
6). Emosi – Hambatan komunikasi yang berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar (mad'u). Apabila emosi mad'u sedang buruk maka hambatan komunikasi dakwah yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
7). Bahasa – Hambatan komunikasi yang terjadi ketika penyampai pesan (da'i) dan penerima pesan (mad'u) menggunakan bahasa atau kata - kata yang tidak dimengerti oleh mad'u sehingga menimbulkan ketidaksamaan makna.
8). Nonverbal – Hambatan komunikasi yang berupa isyarat atau gesture.
9). Kompetisi – Hambatan komunikasi yang timbul ketika penerima pesan (mad'u) sedang melakukan kegiatan lain di saat menerima pesan dakwah.
Mengatasi Hambatan dalam Komunikasi Lintas Budaya
Berikut ini adalah cara mengatasi hambatan komunikasi menurut Bovee dan Thill, 2002, 22, sebagai berikut ;
1. Memelihara iklim komunikasi agar senantiasa terbuka
2. Bertekad untuk memegang teguh etika dalam berkomunikasi dan menjalannya dengan baik
3. Memahami akan adanya kesulitan komunikasi antar budaya
4. Menggunakan pendekatan komunikasi yang berpusat pada penerima pesan.
5. Menggunakan tekonogi yang ada secara bijaksana dan bertanggung jawab agar dapat memperoleh dan membagi informasi dengan baik dan efektif.
6. Menciptakan serta memproses pesan secara efektif dan juga efisien. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara yakni : memahami penerima pesan, menyesuaikan pesan dengan si penerima, mengurangi jumlah pesan, memilih salurah atau media secara tepat, meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Comments
Post a Comment